“Jangan gunakan kunci pintu keberhasilan lama untuk
membuka sebuah pintu kesempatan yang ada di depan”
Kita harus menyadari bagaimanapun baiknya kita
sebagai orang tua, maka problem atau masalah pasti
akan dialami oleh anak-anak kita. Karena masalah
adalah bagian dari hidup yang tidak dapat
dipisahkan. Ada yang menganggap masalah itu sebagai
hambatan dan yang lainnya menganggap itu sebagai
sebuah tantangan. Tetapi cukup sulit bagi kebanyakan
orang tua untuk melihat anak-anaknya mengalami
masalah. Semua orang tua akan berusaha membuat
anak-anak mereka terbebas dari masalah atau problem
walaupun sebenarnya itu mustahil.
Apalagi dengan latar belakang orang tua yang pernah
hidup susah dan penuh masalah pada waktu kecilnya,
maka ketika anaknya bertumbuh dewasa sebisa mungkin
mereka akan berusaha keras untuk menyelamatkan
anak-anaknya atau minimal menghindarkan mereka dari
masalah-masalah atau pengalaman buruk serupa yang
pernah mereka alami. Banyak orang tua juga sering
menggunakan ‘kunci pintu keberhasilan mereka untuk
membuka pintu-pintu kesempatan bagi anak mereka’.
Mereka berpikir bahwa pengalaman dan pengetahuan
mereka akan mampu menyelamatkan anak-anaknya dari
masalah.
Secara alamiah memang setiap orang tua ingin
melindungi anak-anaknya dari membuat kesalahan namun
pada akhirnya kebanyakan orang tua terjebak menjadi
‘Problem Solver’ bagi anak mereka, padahal mereka
sebenarnya harus mengajarkan teknik ‘problem
solving’ kepada anak mereka.
Akibat Orang Tua Yang Berperan Sebagai ‘Problem
Solver’
Resiko atau akibat yang dapat terjadi bila orang tua
terlalu sering memecahkan masalah anak daripada
menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Anak Menjadi Pasif
Anak akan merasa terbiasa dilayani, merasa nyaman
dengan pelayanan yang kadang-kadang ‘overprovided’ .
Sehingga tidak ada lagi dorongan untuk berusaha
sendiri dan ’survive’ karena semuanya terlayani.
Contohnya, kita sering melihat di pusat-pusat
perbelanjaan sebuah keluarga berjalan berbaris,
setiap anak didampingi oleh satu orang baby-sitter
atau perawatnya. Semua kebutuhan sekecil apapun sang
baby-sitter akan segera siap melayaninya, sedangkan
kedua orang tuanya sibuk dengan aktifitasnya
sendiri-sendiri.
Anak Menjadi Penikmat
Selain mengalami ‘overprovided’ , anak-anak kita juga
sering diperlakukan secara ‘overprotective’ . Dijaga
sedemikian rupa oleh orang tuanya, sehingga ia hanya
menerima yang terbaik, sangat berkecukupan dan jauh
dari masalah.
Anak penikmat akan selalu menuntut lingkungannya
untuk melayaninya, menjaganya dan melindunginya.
Tidak akan ada ’survival mode’ di dalam jiwa anak
tersebut. Hidupnya terasa ’serba aman’ karena merasa
selalu ada orang lain yang siap melindunginya dan
mau berkorban untuknya.
Pernahkah kita melihat seorang anak setiap pagi
asyik menonton film kartun kesukaan di depan TV
layar lebar, sedangkan pada saat yang sama orang
tuanya terbungkuk-bungkuk berusaha memasangkan
sepatunya untuk bisa segera berangkat ke sekolah
supaya tidak terlambat.
Anak Menjadi Egois
Ia akan selalu merasa benar dan ingin menang
sendiri. Semua hal diperhitungkan demi
kepentingannya sendiri. Kita tidak dapat
membayangkan seberapa sulitnya ia ketika besar nanti
dalam bersosialisasi dan bergaul dengan
lingkungannya.
Tiga Langkah Dalam Melatih ‘Problem Solving’ Pada
Anak
Untuk memulai langkah-langkah di bawah ini kita
harus mengawalinya dengan menghentikan peran orang
tua yang ’segera selesaikan masalah anakmu’. Biarkan
anak-anak mulai memikirkan cara-cara yang dapat
dilakukan untuk mengatasi masalahnya. Maka langkah
selanjutnya mulai dapat dilakukan sebagai berikut:
1.Diskusi
Pemecahan masalah dimulai dengan komunikasi terbuka
antara orang tua dan anak. Nyatakan masalah yang
dihadapi dengan jelas dan tenang. Bila kita sedang
emosi, sebaiknya kita tenangkan diri kita sejenak
sebelum membahas masalah tersebut dengan anak. Ingat
jangan gunakan kata-kata tuduhan atau mempersalahkan
anak ketika kita berdiskusi, sampaikan hanya apa
yang menjadi masalah. Contoh:
“Ánakku, saya perhatikan kamu masih meletakkan
handuk di tempat tidurmu tadi pagi”
“Waktu kamu memutar televisi dengan suara keras di
atas jam 10 tadi malam, saya dan ibumu tidak bisa
tidur.”
Mintalah usulan atau daftar pemecahan masalah dari
sang anak terlebih dahulu sebelum kita menambahinya.
Jangan beri penilaian atas usulan sang anak – catat
saja. Kalau dia mulai kesulitan memberi usulan,
mungkin kita dapat memancingnya dengan perkataan:
“Bagaimana kalau kamu coba yang…” sering kali
langkah ini terbukti berhasil.
2.Konsekuensi Logis
Setelah mendaftarkan semua alternatif pemecahan lalu
diskusikan satu persatu. Setelah menentukan
pemecahan yang paling menjanjikan, buat kesepakatan
bisa secara verbal atau tertulis. Gunakan
konsekuensi logis sebagai sanksi bila terjadi
ketidakpatuhan atas kesepakatan. Disiplin tidak
selalu berbentuk hukuman fisik tetapi dapat juga
berupa melarang perbuatan yang disukai anak
(bersepeda sore hari, membaca komik, menonton
televisi ataupun bermain game komputer). Sebaiknya
konsekuensi logis berhubungan dengan permasalahan
yang dihadapi.
3.Evaluasi
Setelah selang beberapa waktu, sebaiknya kita
mengevaluasi kesepakatan yang telah dilakukan apakah
konsisten dilakukan? Evaluasi seberapa jauh
keberhasilan pemecahan masalah tersebut.
Mulailah mendidik anak untuk memecahkan masalahnya
sendiri dan mulailah hal itu sekarang!
“The trouble with most of us is that we stop trying
in trying times” (Dennis Waitley)









